Selasa, 28 Maret 2017

Makalah Perikarditis

Makalah Perikarditis
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang.

Pada perikarditis, ditemukan reaksi radang yang mengenai lapisan perikardium viseratis dan atau parietalis.ditemukan banyak penyebab tetapi yang paling sering ialah akut, perikarditis non spesifik (viral), infark miokard dan uremia.

Perikardium dapat terlibat dalam berbagai kelainan hemodinamika, radang, neoplasi, dan bawaan. Penyakit perikardium dinyatakan oleh tmbunan cairan (disebut efusi perikardium), radang (yaitu perikarditis). Perikarditis ialah penyakit sekunder dimanapun di tubuh contohnya penyebaran infeksi kedalam kantung perikareritematasus sistemik. Tetapi kadang-kadang perikarditis terjadi sebagai kelainan primer.

B.    Tujuan Penulisan
Khusus : diharapkan pad mahasiswa / i stikep muhammdiyah dapat memahami konsep dari perkarditis.
Umum  :
  • diharapkan pada seluruh masyarakat, mahasiswa / i stikep khususnya memperoleh pengetahuan tentang perikarditis.
  • Mengkaji tanda-tanda dan gejala perikarditis
  • Mengetahui penyebab perikarditis
  • Mengetahui komplikasi dan sebagainya
C.    Ruang Lingkup

Ruang lingkup penulisan makalah ini meliputi :

1.    Pengertian dari perikarditis
2.    Anatomi fisiologi
3.    Etiologi dari perikarditis
4.    Faktor resiko
5.    Patogenesis
6.    Manifestsi klinis
7.    Tindakan diagnostik
8.    Komplikasi

D.
A. Konsep Dasar
1.    Definisi
Perikarditis adalah peradangan lapisan paling luar
 jantung (membran tipis yang mengelilingi jantung). (H. Winter Griffith M.D, 1994).
Perikarditis adalah peradangan perikardium parietal, perikardium viseral, atau kedua-duanya. (Arif Mansjoer, 2000).
Kesimpulan perikarditis adalah peradangan lapisan paling luar jantung baik pada parietal maupun viseral.
2.    Anatomi Fisiologi
Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot. Otot jantung merupakan jaringan istimewa karena kalau dilihat dari bentuk dan susunannya sama dengan otot serat lintang, tetapi cara bekerjanya menyerupai otot polos yaitu diluar kemauan kita (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom).
Perikardium merupakan lapisan jantung sebelah luar yang merupakan selaput pembungkkus terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan parietal dan viseral yang bertemu di pangkal jantung membentuk kantung jantung. Diantara dua lapisan jantung ini terdapat lendir sebagai pelicin untuk menjaga agar pergesekan antara perikardium pleura tidak menimbulkan gangguan terhadap jantung. Jantung bekerja selama kita masih hidup, karena itu membutuhkan makanan yang dibawa oleh darah, pembuluh darah yang terpenting dan memberikan darah untuk jantung dari aorta asendens dinamakan arteri karonaria.
3.    Etiologi
Menurut H. Winter griffith M.D. 1994, kadang-kadang tidak terlalu diketahui penyebab yang paling umum diketahui adalah :
  • Infeksi virus
  • Demam rematik dan penyakit lainnya darin jringan ikat, seperti lupus eritematosus
  • Gagal ginjal kronik
  • Komplikasi serangan jantung
  • Komplikasi pembedahan jantung
  • Kompliksi cedera dada, termasuk penggunaan kateter kardiak
  • Penyebaran kangker ke lapisan jantung paling luar
4.    Fakktor resiko
  • Penyakit baru-baru ini seperti serangan jantung, penyakit akibat virus, atau demam rematik
  • Riwayat medik tuberculosis
5.    Fatogenesis
Virus tampak kepentingannya meningkat sebagai penyebab perikarditis primer. Sebenarnya beberapa peneliti percaya bahwa virus terutama menyebabkan kasus perikarditis “idiopatik” akut, walaupun tidak semua. Diantara kasus perikarditis virus yang dikenal yang disebabkan oleh virus Coxsackie B, influenza A, dan B, beberapa virus ekho dan epstein-barr (dalam hubungan dengan mononukleosis) amat penting. Patogenesis perikarditis virus tidak jelas. Sering terjadi infeksi akut saluran bagian pernafasan bagian atas, walaupun demikian tidak diketaui dengan jelas virus penyebab itu kemudian menyebar ke dalam perikardium. Terdapat beberapa penunjang pandangan itu, bahwa banyak virus tidak secara langsung menyerang jaringan perikardium,tetapi lebih utama dengan berbagai cara menggalakan hipersensitivitas yang kemudian melibatkan perikardium.
Bakteri dapat mencapai perikardium baik secara langsung dari struktur terkena seperti paru dan pleura, atau oleh karena penyebarn hematogen atau limfatik. Pada tahun-tahun terakhir ini, angka kejadian perkaditis bakteri telah nyata menurun. Meskipun penyebab stafilokokus dan tuberkulosis tetap penting. Terutama pada anak, perikarditis stafilokokus relatif sering dan hampir selalu diikuti entah dengan pneumoni atau osteomielitis. Nyatanya baik penyertaan perikarditis spesis yang menguasai gambaran klinik maupun hanya sebagian kecil gambaran klinik, memang bervariasi.
Perikarditis bakteri telah merosot kepentingannya, jamur dan protozoa telah menjadi lebih penting selaku penyakit perikardium. Sering kali dsertai dengan miokarditis. Diantara jamur, koksidioides imitis, histoplasma kapsulatum dan kandida albikans, dan diantara protozoa, toksoplasma gondi, dapat menyebabkan keterlibatan perikardium yang tampaknya primer, dan harus dicurigai pada kasus peikarditis idiotik.
Diantara perikarditis metabolik, yang paling sering terjadi karena uremi, bentuk perikarditis metabolik yang jarang dengan etiologi tidak diketahui, disebut perikarditis kolesterol karena terdapat kristal kolesterol dalam cairan intraperikardium. Miksedema pun berakibat efusi perikardium, tetapi bukan radang meskipun tidak menunjukan perikarditis yang sebenarnya.
Perikarditis neoplasi, hampir selalu berasal dari tumor langsung atau metastase tumor yang terjadi di luar kantung perikardium. Paling sering penyebaran langsung dari limfoma mediastinumatau dari karsinoma bronkogenik atau esofagus. Meskipun metastasis kangker apa pun dalam tubuh dapat melibatkan perikardium, penyebaran semacam itu pada umumnya jarang.
Perikarditis traumatik relatif lebih sering disebabkan oleh karena dada tak tembus. Hal ini mencerminkan baik kontusi ringan permukaan perikardium jantung maupun adanya darah dalam kantung perikardium yang menyebabkan respon perbaikan, seperti dalam ruang pleura atau peritoneum. Jarang luka tembus dada menyebabkan penyebaran langsung kuman ke dalam ruang perikardium, yang menyebabkan perikarditis supuratif.
Perikardium seperti selaput serosa lain , sangat rentan pada status hipersensivitas
6.    manifestasi klinis
gejala yang khas pada perikarditis adalah nyeri dada dan tanda yang khas adalah friction rub :
  • nyeri hebat di dalam dada, merambat ke leher dan bahu, nyeri memburuk jika bergerak dan berkurang jika duduk atau bersandar ke depan
  • nafas yang cepat
  • batuk-batuk
  • demam dan menggigil
  • lesu
  • f.    cemas
7.    Tindakan Diagnostik
  • mengamati sendiri gejala yang timbul
  • pencatatan perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik oleh dokter
  • EKG
  • Sinar X dari dada
  • Thoracentesis (pengangkatan cairan dengan sebuah jarum)
8.    Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi adalah cairan di lapisan jantung paling luar dapat menyebabkan takanan pada jantung. Hal ini dapat membawa ke kematian kecuali cairan itu diangkat dengan cepat.

B. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PERIKARDITIS 
1. Pengkajian
pengkajian keperawatan yang dapat muncul menurut Marulynn E Doengoes,1999 adalah sebagai berikut :
a.    aktivitas / istirahat
Gejala : kelelahan , kelemahan
Tand : Takikardi, penurunan TD, dispnea dengan aktivitas
b.    Sirkulasi
Gejala :     riwayat demam rematik, penyakit jantung kongenital, bedah jantung (CABG / penggantian akutp / by pass Kardiopumonal lama), palpitasi, jatuh pingsan.
Tanda :      takikardi, distrimia, perpindahan tim(titik impuls maksimal) kiri dan inferior (pembesaran jantung) friction rub Perikardia(biasanya intermiten, terdengar di batas sternal kiri), murmur aortik, mitral, stenosis / insufisiensi trikuspid : perubahan dalam marmur yang mendahului ; disfungsi otot papilar, irama gallop (S3/S4), edema, petekie(kongjungtiva, membran mukosa), hemoragi splinter(punggung kuku), nodus oster(jari/ibu jari), lesi janeway(telapak tangan, telapak kaki)
c.    Eliminasi
Gejala:     riwayat penyakit ginjal/gagal ginjal, penurunan frekuensi / jumlah urine
Tanda:    urine pekat gelap
d.    Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala:    nyeri pada anterior (sedang sampi berat / tajam) diperberat oleh inspirasi, batuk, gerakan menelan, berbaring. Hilang dengan duduk, bersandar kedepan, tidak hilang dengan nigtrogtoserin
e.    Pernapasan
Gejala: napas pendek
Tanda: dispnea, batuk, inspirasi mengi, takipnea, krekels, ranki, pernapasan dongkal
f.    Keamanan
Gejala: riwayat infeksi virus, bakteri, jamur, penurunan sistem imun, SLE, atau pennyakit kolagen lainnya.
Tanda: demam
g.    Penyuluhan / pembelajaran
Gejala: terapi IV jangka panjang atau penggunaan kateterindwelling atau penyalahgunaan obat parenteral
Pertimbangan  : DRG menunjukan rerata lama perawatan 4,3 hari
Rencana pemulangan : bantu dalam penyiapan makanan, bebrbelanja, transportasi, kebutuhan perawatan diri, tugas dan pemeliharan rumah tangga
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul menurut maryllin E doengoes,1992 adalah sebagai berikut :
a.    nyeri berhubungan dengan inflamasi perikardium ; efek-efek sistemik dari infeksi,
hasil yang diharapkan :
  1. mengidentifikasi metode yang memberi penghilangan
  2. melaorkan nyeri hilang / terkontrol
  3. mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas pengalih sesuai dengan indikasi untuk situasi individual.
Intervensi :
1.    Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan faktor pemberat atau penurun .
Rasional : nyeri perikarditis secara khas terletak subternal dan menyebar ke leher, punggung. Nsmun, ini berbeda dari iskemia miokard / nyeri infark
2.    Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan, misalnya; perubahan posisi, gosokan punggung, penggunaan kompres panas / dingin, dukungan emosional
Rasional : menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional   pasien.
3.    Berikan aktivitas hiburan yang tepat
Rasional : mengarahkan kembali perhatian, memberikan distraksi dalam tingkat aktivitas individu
4.    Berikan obat sesuai indikasi
Rasional : menghilangkan nyeri, menurunkan respons inflamasi
5.    Berikan oksigen suplemen sesuai indikasi
Rasional : memaksimalkan ketersediaan oksigen untukambilan untuk menurunkan beban kerja jantung dan menurunkan ketidaknyamanan berkenaan dengan iskemia.
b.    Intoleran Aktivitas berhubungan dengan pembatasan pengisisan jantung  / kontraksi ventrikel, penurunan curah jantung
Hasil yang diharapkan :
1.    melaporkan / menunjukan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas
2.    mendemontrasikan penurunan tanda fisiologis intoleransi
3.    mengungkap pemahaman tentang pembatasan terapeutik yang diperlukan
c.    Penurunan curah jantung berhubungan dengan akumulasi cairan dalam kantung perikardia
Hasil yang diharapkan :
1.    melaporjkan atau menunjukan penurunan episode dispnea, angina dan disritmia
2.    mengidentifikasi perilaku untuk menurunkan beban kerja jantung
intervensi :
1.    pantau frekuensi / irama jantung
Rasional : takikardi dan disritmia dapat terjadi saat jantung berupaya untuk meningkatkan curah berespons pada demam, hipoksia, dan asidosi karena iskemia
2.    auskultsi bunyi jantung, perhaitkan jarak / muffed tenus jantung, murmur, gallop[ S3 dan S4
Rasional : membrikan deteksi dini dari terjadinya komplikasi, misalnya : GJK, temponade jantung
3.    dorong tirah bening dalam posisi semi fousler
Rasional : menurunkan beban kerja jantung, memaksimalkan curah jantung
4.    berikan tindakan kenyamanan, misalnya; aktivitas hiburan dalam toleransi jantung
Rasional : meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kembali perhatian
5.    dorong penggunaan teknik manajemen sterss, misalnya; bimbingan imajinasi, latihan pernapasan.
Rasional : perilaku yang bermanfaat untuk mendorong ansietas,meningkatkan relaksasi, menurunkan beban kerja jantung
6.    selidiki nadi cepat, hipotensi, penyempitan tekanan nadi, peningkatan CPD / DVJ, perubahan tenus jantung, penurunan tingkat kesadaran.
Rasional : manifestsi klinis dari tamponade jantung yang dapt terjadi pada perikarditis bila akumulasi cairan / eksudat dalam kantung perikardia membatsi pengisian dan curah jantung
7.    bantu dalam perikardionsentesis darurat.
Rasional : prosedur dapt dilakukan di tempat tidur untuk menurunkan tekanan cairan di sekitar jantung, yang dapat dengan cepat memperbaiki curah jantung.
8.    siapkan pasien untuk pembedahan, bila diindikasikan
Rasional : perikardektomi mungkin diperlukan karena akumulasi cairan perikardial berulang atau jaringan parut dan konstriksi fungsi jantung
9.    kolaborasi dalam pemberian antibiotik / antimikrobial intravena
Rasional : diberikan untuk mengatsi patogen yang teridentifikasi, yang mencegah keterlibatan / kerusakan jantung lebih lanjut.
d.    Kurang pengetahuan tentang kondisi / berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit, cara untuk mencegah pengulangan atau komplikasi
Hasil yang diharapkan :
1.    Menyatakan pemahaman tentang proses implamasi, kebutuhan pengobatan dan kemungkinan komplikasi
2.    Mengidentifikasi / melakukan pola hidup yang perlu atau perubahan perilaku untuk mencegah terulangnya atau terjadinya komplikasi.
Intervensi :
1.    Jelaskan efek implamasi pada jantung, ajrkan untuk memperhatikan gejala sehubungan dengan komplikasi / berulangnya dan gejala yang dilaporkan dengan segera pad pemberi perawatan, contoh : demam  atau peningkatan nyeri dada tak biasnya, peningkatan berat badan, peningkatan toleransi terhadap aktivitas.
Rasional : untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan sendiri, pasien perlu memahami penyebab khusus, pengobatan dan efek jangka panjang yang diharapakan dari kondisi, implamasi, sesuai dengan tanda /gejala yang menunjukan kekambuhan atau komplikasi
2.    Anjurkan pasien / orang terdekat tentang dosis, tujuan dan efek samping obat;kebutuhan diet / pertimbangan khusus; aktivitas yang diizinkan / dibatasi
Rasional : informasi perlu untuk meningkatkan perawatan diri, peningkatan keterlibatan pada program terapeutik, mencegah komplikasi
3.    Kaji ulang perlunya antibiotik jangka panjang /terpi anti mikrobial
Rasional : perawatan di rumah sakit lama / pemberian antibiotik IV / anti mikrobial perlu sampai kultur darh negatif / hasil darah lainmenujukna tak ada infeksi.
4.    Diskusikan Pneggunaan antibiotik profilaksis
Rasional : pasien dengan riwayat demam rematik beresiko tinggi untuk kambuh dan biasanya memerlukan profilaksis antibiotik jangka panjang. Pasien dengan masalah katup yang tidak mempunyai riwayat semam rematik memerlukan perlindungan antibiotik jangka pendek untuk prosedur yang menyebabkan pemindahan bakteri.
5.    Tingkatkan praktik kesehatan seprti nutrisi yang baik, keseimbangan antara aktivits dan istirahat, pantau status kesehatan sendiri dan meloporkan tanda infeksi.
Rasional : kekuatan sitem imin dan  tahanan terhadap infeksi
6.    Berikan Imunisasi contoh vaksin influenza sesuai indikasi
Rasional : menurunkan resiko mengalami infeksi berat yang menimbulkan infeksi jantung
7.    Identifikasi dukungan individu / sumber yang tersedia pasca pulang untuk memenuhi perawatan atau kebutuhan pemeliharaan dirumah
Rasional : ketidak stabilan terhadap aktivitas dapat mengganggu kemampuan pasien melakukan tugas yang dibutuhkan.
8.    Tekankan pentingnya evaluasi perawatan medis teratur. Anjurkan pasien membuat perjanjian
Rasional : pemahaman alsan untuk pengawasan medis dan untuk penerimaan tanggung jawab untuk evaluasi menurunkan resiko kambuh atau komplikasi.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
penyakit perikarditis tidak menular atau menjadi kangker, kecuali disebabkan penyebaran kangker di tempat lain. Adapun penyebab dari perikarditis belum diketahui secara pasti, akan tetapi secara umum yang menyebabkan perikarditis oleh banyak faktor baik bisa disebabkan oleh penykit lain maupun infeksi dari virus. Pada tanda dan gejala, pasien lebih sering merasakan nyeri pada daerah dada karena terjadinya peradangan pada lapisan jantung yang paling luar.
2. Saran
Setelah membaca dan memahami konsep dasar pada asuhan keperawatan perikarditis, diharapkan kepada mahasiswa/i khususnya Stikep muhammadiyah dapat melakukan dan melaksanakan perencanaan dengan profesional pada pasien dengan perikarditis dan juga bagi setiap orang dapat menghindari penyakit perikarditis dengan selalu menjaga dan membiasakan pola hidup sehat.



MAKALAH SISTEM KARDIOVASKULER FARMAKOLOGI ANTITROMBOLITIK

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
            Obat yang ada saat ini masih jauh dari ideal. Tidak ada obat yang memenuhi semua kriteria obat ideal, tidak ada obat yang aman, semua obat menimbulkan efek samping, respon terhadap obat sulit diprediksi dan mungkin berubah sesuai dengan hasil interaksi obat, dan banyak obat yang mahal, tidak stabil, dan sulit diberikan. Karena banyak obat tidak ideal, semua anggota tim kesehatan harus berlatih “care” untuk meningkatkan efek terapeutik dan meminimalkan kemungkinan bahaya yang ditimbulkan obat.


1.2 TUJUAN PENULISAN
Makalah ini disusun dengan tujuan :
1.Untuk Memenuhi tugas
kelompok.
2.Untuk Menambah Ilmu Pengetahuan
tentang farmakologi.
















BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Anti Trombolitik
            anti trombolitik adalah obat yang menghambat agregrasi trombosit sehingga menyebabkan terhambatnya pembentukan thrombus yang terutama sering ditemukan pada system arteri.

B. Jenis-jenis obat Anti trombolitik
            Beberapa bagian dari obat antitrombolitik adalah sebagai berikut:
1. ASETOSAL (ASPIRIN)
·         Mekanisme kerja : menghambat sintesis tromboksan didalam trombosit dan prostaksiklin dipembuluh darah dengan menghambat secara irrefesible enzim siklok sigenase terjadi karena aspirin mengasetilasi enzim tersebut. Aspirin dosis kecil hanya dapat menekan pembentukan tromboksan, sebagaii akibatnya terjadi pengurangan agregasi trombosit.

·         Nama generik : Asetosal

·         Nama dagang di Indonesia : Restor (Prima Adimulia Sejati), Ascardia (Pharos), Procardin (Medikon Prima), Trombo Aspilet (Medifarma), Aspimec (Mecosin), Cardio Aspirin (Bayer).

·         Indikasi : Terapi antiagregasi platelet (trombosit) pada kondisi patologis dimana hiperaktivasi atau aktivasi trombosit mungkin menjadi faktor penentu dalam proses terbentuknya trombus.

·         Kontraindikasi : Tukak peptik atau dispepsia, hemofilia dan gangguan perdarahan lain, asma, anak dibawah 12 tahun dan yang menyusui (sindrom reye), polip nasal
.
·         Bentuk sediaan : Tablet 80 mg dan 100 mg, tablet salut enterik 80 mg dan 100 mg.

·         Dosis dan aturan pakai : 75- 300 mg sehari untuk pencegahan sekunder penyakit serebrovaskuler atau kardiovaskuler trombotik. Asetosal 150-300 mg sehari digunakan untuk mengurangi kematian setelah infark miokard. Asetosal dosis rendah (misal 75 atau 100 mg sehari) juga diberikan setelah pembedahan bypass (Anonim, 2000). Stroke akut : 160-325 mg/hari dimulai dalam 48 jam  (pada pasien yang tidak mengalami trombolisis dan tidak menerima antikoagulan sistemik). Pencegahan stroke : 30-325 mg/hari (dosis dinaikkan sampai 1300 mg/hari terbagi dalam 2-4 dosis (2-4 x sehari) yang telah digunakan dalam percobaan klinis) (Lacy, et al, 2006)

·         Efek samping : Bronkospasme; perdarahan saluran cerna (kadang-kadang parah), juga perdarahan lain (misal subkonjugtiva).
·         Resiko khusus : Gangguan hati dan ginjal.

2. TIKLOPIDIN
·         Nama generik : Tiklopidin

·         Nama dagang di Indonesia : Cartrilet (Fahreinheit), Klobitor (Varia Sekata), Nufaclapide (Nufarindo), Piclodin (Pharos), Ticard (Sanbe Farma), Ticuring (Lapi), Agulan (Darya Varia)

·         Indikasi : Inhibitor agregasi platelet yang mengurangi resiko dari stroke trombotik pada pasien stroke atau prekursor stroke, mengurangi resiko trombogenik pada pasien intoleransi aspirin.

·         Kontraindikasi : Hipersentivitas terhadap tiklopidin, disfungsi liver parah, diastesis hemopati dan hemoragik, lesi organik dengan kemungkinan perdarahan, stroke hemoragik akut, alergi kulit, leukopenia, trombopenia atau agranulositosis.

·         Bentuk sediaan : Tablet 250 mg, tablet salut selaput 250 mg

·         Dosis dan aturan pakai : Pencegahan stroke : 250 mg 2 x sehari pada waktu makan.

·         Efek samping : Gangguan gastrointestinal, urtikaria, ruam kulit, eritema, agranulositosis, trombopenia, aplasia medulla, ikterus kolestatik atau tanpa kenikan transaminase.

·         Resiko khusus : Pasien dengan resiko perdarahan akibat trauma; pembedahan atau kondisi patologik; hamil; laktasi; jangan digunakan bersama dengan aspirin, antikoagulan, kortikosteroid.


3. PENTOKSIFILIN
·         Nama generik : Pentoksifilin

·         Nama dagang di Indonesia : Erypent (Sunthi Sepuri), Erytal (Medikon Prima), Lentrin (Metiska Farma), Platof (Sanbe), Tarontal (Bernofarm), Trental (Hoest Marion Roussel Indonesia), Trentox (Dexa Medica), Trenxy (Ikapharmindo)

·         Indikasi : Klaudikasi intermiten akibat oklusi arteri perifer kronis

·         Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap pentoksifilin, xantin (cafein, teofilin), perdarahan serebral dan atau retina.

·         Bentuk sediaan : Tablet salut enterik 100 mg, tablet lepas lambat 400 mg, kabtab salut gula 400 mg, cairan injeksi 20 mg/ml

·         Dosis dan aturan pakai : 400 mg 2-3 x sehari setelah makan; jika dalam 1-2 minggu tidak ada perbaikan sebaiknya dihentikan; jika terjadi efek samping saluran cerna atau sistem saraf pusat berkembang sebaiknya dosis dikurangi menjadi 400 mg 1-2 x sehari

·         Efek samping : lazim terjadi mual dan dispepsia; kurang lazim kembung, anoreksia, muntah; pusing, sakit kepala, muka merah; kadang-kadang insomnia, mengantuk,cemas, bingung; jarang terjadi palpitasi, angina, aritmia, hipotensi, dispnea, edema; juga pernah dilaporkan kolesistitis, hepatitis, pansitopenia, trombositopenia, purpura, anemia aplastik; kadang-kadang juga terjadi penglihatan kabur, ruam kulit, urtikaria, mulut kering, sumbatan nasal.

·         Resiko khusus : Hipotensi, laktasi, penyakit jantung koroner berat, pasien yang alergi terhadap turunan xantin; mungkin mengurangi aras fibrinogen plasma; pada pasien yang juga menerima obat antihipertensi sebaiknya tekanan darahnya dipantau; pasien yang menerima terapi antikoagulan atau yang beresiko terjadi perdarahan; pasien lanjut usia dimulai dengan dosis rendah dan pantau fungsi ginjalnya; pasien dengan penurunan fungsi ginjal dan hepar.

4.CLOPIDOGREL
·         Nama generik : Clopidogrel

·         Nama dagang di Indonesia : Plavix (Sanofi Aventis)

·         Indikasi : Mengurangi terjadinya aterosklerotik (infark miokard, stroke dan kematian vaskular) pada pasien dengan aterosklerosis yang disebabkan oleh stroke sebelumnya, infark miokard atau penyakit arteri perifer.

·         Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap clopidogrel, perdarahan patologi aktif (seperti ulkus peptik aktif, perdarahan intrakranial), gangguan koagulasi.

·         Bentuk sediaan : Tablet salut selaput 75 mg

·         Dosis dan aturan pakai : 75 mg 1 x sehari dapat diberikan tanpa makanan.

·         Efek samping : Perdarahan gastrointestinal, purpura, memar, hematoma, anemia, epistaksis, hematuria, perdarahan okular, perdarahan intra kranial, nyeri perut, dispepsia, gastritis dan konstipasi, ruam, pruritus.

·         Resiko khusus : Pasien yang mungkin mengalami peningkatan resiko perdarahan akibat, pembedahan atau kondisi patologik lain. Pasien dengan penyakit liver parah. Pasien sedang diberikan terapi NSAID. Hentikan terapi 1 minggu sebelum operasi. Kehamilan.

5. KOMBINASI ASETOSAL dan DIPIRIDAMOL
·         Nama generik : Asetosal dan Dipiridamol

·         Nama dagang di Indonesia : Aggrenox (Boehringer Ingelheim)

·         Indikasi : Mengurangi resiko stroke iskemik dan serangan iskemik sementara.

·         Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap dipiridamol dan asetosal, atau salah satu komponen obat, penggunaan bersama ketorolac, alergi terhadap NSAID, pasien dengan asma, rinitis, dan polip nasal, gangguan perdarahan, anak-anak dibawah 16 tahun dengan infeksi viral, kehamilan dan laktasi, penyakit ginjal berat, ulkus gaster atau duodenum atau perdarahan gastrointestinal.

·         Bentuk sediaan : Kapsul lepas lambat (dipiridamol 200 mg, asetosal 25 mg)

·         Dosis dan aturan pakai : 1 kapsul 2 x sehari, pagi dan malam, dapat diberikan dengan atau tanpa makanan.

·         Efek samping : Sakit kepala, mual, muntah, diare, pusing, nyeri otot, nyeri lambung, reaksi hipersensitif, perdarahan.

·         Resiko khusus : Penyakit jantung koroner berat (angina tidak stabil atau infark miokard), disfungsi hepar, pasien dengan hipotensi, miastenia gravis, asma, rinitis alergi, polip nasal, gangguan lambung atau duodenum kronis atau berulang, gangguan fungsi ginjal, defisiensi G6PD. Hentikan terapi 1 minggu sebelum operasi. Hentikan terapi bila terjadi kepeningan (dizziness), tinnitus atau berkurangnya pendengaran.

6. CILOSTAZOL
·         Nama generik : Cilostazol

·         Nama dagang di Indonesia : Pletaal (Otsuka), Stazol (Bernofarm), Naletal (Guardian Pharmatama), Qital (Ethica), Aggravan (Ferron), Agrezol (Meprofarm), Citaz (Kalbe Farma).

·         Indikasi : Terapi gejala iskemik, misalnya ulserasi, nyeri dan rasa dingin pada ekstremitas pada oklusi arteri kronik, pencegahan infark serebral rekuren.

·         Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap cilostazol, perdarahan, gagal jantung kongestif, hamil dan laktasi

·         Bentuk sediaan : Tablet 50 mg dan 100 mg

·         Dosis dan aturan pakai : Dewasa : Oral : 100 mg 2 x sehari diminum 1,5 jam sebelum atau 2 jam setelah makan pagi dan makan malam, dosis seharusnya dikurangi menjadi 50 mg 2 x sehari selama terapi bersamaan dengan inhibitor CYP3A4 atau CYP2C19. Cilostazol paling baik dikonsumsi 30 menit sebelum atau 2 jam setelah makan.

·         Efek samping : Ruam, palpitasi, takikardi, muka merah dan panas, sakit kepala, pusing; sakit perut, mual muntah, anoreksia, diare, pendarahan subkutan; peningkatan SGPT, SGOT, A-1P dan LDH; berkeringat dan edema.

·         Resiko khusus : Menstruasi, kecenderungan untuk terjadi perdarahan, diastesis hemoragik, gangguan hati atau ginjal berat, pasien dalam terapi antikoagulan, antitrombotik atau antiplatelet, prostaglandin E1 atau derivatnya. 


































BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Jadi, Bermacam-macam penyakit memerlukan obat yang berbeda-beda, begitu juga dengan obatnya selain mempunyai fungsi masing-masing obat juga mempunyai efek sampingnya masing-masing, dan sebagai siswa keperawatan kita semua harus bisa memahami tentang obat-obatan tersebut, agar kita mampu memberikan perawatan yang tepat kepada klien.

B. Kritik dan Saran
            Selesainya makalah ini tidak terlepas dari banyaknya kekurangan-kekurangan pembahasannya dikarenakan oleh berbagai macam faktor keterbatasan waktu, pemikiran dan pengetahuan kami yang terbatas, oleh karena itu untuk kesempernuan makalah ini kami sangat membutuhkan saran-saran dan masukan yang bersifat membangun kepada semua pembaca.
Sebaiknya gunakanlah obat sesuai anjuran dokter, dan pergunakan lah obat tersebut sesuai dengan penyakit yang diderita klien, jangan menggunakan obat kurang atau melebihi dosisnya.















DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2000, Informatorium Obat NasionalIndonesia (IONI), Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 
Anonim, 2004, Drug Fact and Comparison 2004, 58th edition, Fact and Comparison St. Louis Missouri, USA.
 Anonim, 2005, MIMS Annual Indonesia 2005/2006, Medimedia Asia pte, Ltd, Singapura. 
Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi 2006/2007, PT IndoMaster lisensi dari CMP Medica, Jakarta.
 Anonim, 2007, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Volume 42, Ikatan Sarjana Farmasi, Jakarta. 
Fagan, S. C., and Hess, D. C., dalam Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Matzke, B. R., Wells, B. G., dan Posey, M. L., 2005, Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach, 3rd edition, Appleton and Lange Stampord Conecticut, USA.
 Junaidi, I., 2004, Panduan Praktis Pencegahan dan Pengobatan Stroke, PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, Jakarta. 
Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, AphA. Lexi-Comp’s. 
Intercollegiate Stroke Working Party (ISWP), 2004, National Clinical Guidelines for Stroke, 2nd edition, Royal College of Physicians, London.